Adainfohitz.com, Jakarta — Umat Hindu di Indonesia memperingati Hari Raya Galungan dan Kuningan pada Rabu (17/6/2026). Perayaan suci ini menjadi momentum untuk memaknai kemenangan Dharma atau kebaikan atas Adharma atau keburukan melalui berbagai tradisi dan simbol penuh nilai spiritual.
Dalam perayaan Galungan dan Kuningan, sejumlah simbol khas digunakan sebagai bentuk ungkapan syukur dan penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Setiap simbol memiliki filosofi yang menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama.
Salah satu simbol yang paling mudah ditemui adalah Penjor, berupa bambu melengkung yang dihiasi janur serta berbagai ornamen. Penjor dipasang di depan rumah atau sepanjang jalan sebagai tanda rasa syukur atas kesejahteraan dan kemakmuran yang diberikan Tuhan.
Selain itu, umat Hindu juga menyiapkan Banten atau sesajen sebagai persembahan suci dalam rangkaian ibadah. Banten menjadi simbol ketulusan hati, rasa bakti, dan penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Pada Hari Raya Kuningan, terdapat pula Tamiang, anyaman berbentuk lingkaran yang melambangkan perlindungan, keselamatan, serta keseimbangan hidup. Sementara Endongan yang terbuat dari janur menyerupai kantong, memiliki makna bekal kebaikan dalam menjalani kehidupan.
Simbol lainnya yakni Dupa yang melambangkan kesucian doa, serta Nasi Kuning sebagai harapan agar umat Hindu mendapat tuntunan dan keberkahan dalam kehidupan.
Sementara Gebogan atau Pajegan, berupa susunan buah-buahan dan hasil bumi yang dihiasi janur dan bunga, menjadi simbol rasa syukur atas rezeki, hasil kehidupan, serta kemakmuran yang dianugerahkan.
Melalui berbagai simbol tersebut, Hari Raya Galungan dan Kuningan tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga nilai kebaikan, keseimbangan, dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.










Komentar