Harga Pertalite Rp10.000, APBN Tanggung Selisih

Avatar photo

- Penulis

Minggu, 9 Agustus 2026 - 08:32 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Harga Pertalite Rp10.000 per liter belum mencerminkan harga keekonomian. APBN menanggung selisih harga melalui mekanisme kompensasi energi.

Harga Pertalite Rp10.000 per liter belum mencerminkan harga keekonomian. APBN menanggung selisih harga melalui mekanisme kompensasi energi.

Adainfohitz.com, JAKARTA — Harga Pertalite yang masyarakat bayar di SPBU sebesar Rp10.000 per liter ternyata belum mencerminkan harga keekonomian. Pemerintah masih menahan harga tersebut melalui mekanisme kompensasi.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan bahwa APBN menanggung selisih antara harga jual dan harga keekonomian Pertalite. Menurutnya, kebijakan tersebut bertujuan menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempertahankan stabilitas ekonomi nasional.

Suahasil menyampaikan penjelasan itu dalam acara Ngobrol Seru by IDN Times bertajuk Subsidi Energi dan Ketahanan Energi: Menata Reformasi Subsidi untuk Indonesia yang Lebih Tangguh.

“Rp10.000, masih Rp10.000, tapi sesungguhnya harga sebenarnya di atas Rp10.000. Selisihnya dibayar oleh APBN,” kata Suahasil.

APBN Tanggung Selisih Pertalite

Pertalite memiliki harga keekonomian Rp13.794 per liter. Namun, masyarakat tetap membelinya dengan harga Rp10.000 per liter.

Dengan demikian, APBN menanggung selisih sebesar Rp3.794 per liter. Nilai tersebut setara dengan sekitar 28 persen dari harga keekonomian.

Pemerintah memperkirakan kebijakan tersebut memberikan manfaat kepada sekitar 157,4 juta kendaraan. Karena itu, pemerintah tetap mengalokasikan anggaran untuk menjaga harga Pertalite.

Harga Pertalite Rp10.000 per liter belum mencerminkan harga keekonomian. APBN menanggung selisih harga melalui mekanisme kompensasi energi.

Subsidi Energi untuk Masyarakat

Selain Pertalite, pemerintah juga memberikan subsidi dan kompensasi untuk sejumlah komoditas energi. Kebijakan tersebut mencakup solar, minyak tanah, LPG 3 kilogram, serta listrik.

Baca Juga :  Gubernur Al Haris Apresiasi Penyerahan Murid Baru Secara Adat

Sementara itu, harga keekonomian solar mencapai Rp16.538 per liter. Masyarakat hanya membayar Rp6.800 per liter. Karena itu, APBN menanggung selisih Rp9.738 per liter atau sekitar 59 persen.

Kemudian, minyak tanah memiliki harga keekonomian Rp17.161 per liter. Namun, masyarakat hanya membayar Rp2.500 per liter. Dengan demikian, APBN menanggung selisih Rp14.661 per liter atau sekitar 85 persen.

Untuk LPG 3 kilogram, harga keekonomiannya mencapai Rp47.929 per tabung. Sementara itu, harga jual eceran tingkat agen sebesar Rp12.750 per tabung.

Akibatnya, APBN menanggung selisih Rp35.179 per tabung atau sekitar 73 persen. Pemerintah memperkirakan sekitar 41,5 juta pelanggan menerima manfaat program tersebut.

Kompensasi Tarif Listrik

Pemerintah juga memberikan subsidi dan kompensasi untuk pelanggan listrik tertentu. Pelanggan rumah tangga 900 VA bersubsidi membayar tarif Rp605 per kWh.

Padahal, harga keekonomian listrik mencapai Rp2.046 per kWh. Oleh sebab itu, APBN menanggung selisih Rp1.441 per kWh atau sekitar 70 persen.

Selain itu, pelanggan rumah tangga 900 VA non-subsidi membayar Rp1.352 per kWh. Tarif tersebut juga masih berada di bawah harga keekonomian.

Baca Juga :  DPRD Jambi Soroti Pungutan Sekolah

Dengan demikian, pemerintah memberikan kompensasi sebesar Rp694 per kWh atau sekitar 34 persen. Pemerintah memperkirakan sekitar 53,2 juta pelanggan menerima kompensasi tersebut.

Subsidi Menjaga Stabilitas Ekonomi

Menurut Suahasil, pemerintah menggunakan subsidi dan kompensasi energi untuk menjaga harga komoditas penting tetap stabil. Kebijakan tersebut mencakup BBM, LPG, minyak tanah, dan listrik.

Selain membantu masyarakat, kebijakan itu juga memberikan kepastian kepada pelaku usaha. Dengan harga energi yang lebih stabil, pelaku usaha dapat menyusun perencanaan dengan lebih baik.

Di sisi lain, kenaikan harga energi yang tidak terkendali dapat meningkatkan beban rumah tangga. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi biaya produksi dan aktivitas ekonomi.

Karena itu, pemerintah terus mengoptimalkan APBN untuk menjaga stabilitas harga energi. Langkah tersebut sekaligus diharapkan mampu mempertahankan daya beli masyarakat.

“Fungsi subsidi energi agar beberapa komoditas energi yang memengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat harganya stabil. Pertama, untuk kelompok bahan bakar BBM, yaitu Pertalite, stabil harganya,” ujar Suahasil.

 

Berita Terkait

Kerinci Raih Juara Dua, Dapat 250 Bedah Rumah
Sungai Penuh Raih Terbaik II Akses Pendidikan Sumatera
Kemenekraf Dukung Pengembangan Board Game Indonesia
Pemkot Sungai Penuh Bahas Tindak Lanjut Ranperda
Polres Sarolangun raih penghargaan IKPA Sempurna 2026
Ngopi Kamtibmas Humanis Kapolres Kerinci
Polemik Seragam Gratis untuk Madrasah di Boyolali
Bakteri E. coli Ditemukan dalam Program MBG
Berita ini 8 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 10:18 WIB

Kerinci Raih Juara Dua, Dapat 250 Bedah Rumah

Kamis, 13 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Sungai Penuh Raih Terbaik II Akses Pendidikan Sumatera

Minggu, 9 Agustus 2026 - 08:32 WIB

Harga Pertalite Rp10.000, APBN Tanggung Selisih

Jumat, 7 Agustus 2026 - 21:55 WIB

Pemkot Sungai Penuh Bahas Tindak Lanjut Ranperda

Jumat, 7 Agustus 2026 - 21:12 WIB

Polres Sarolangun raih penghargaan IKPA Sempurna 2026

Berita Terbaru

Perumda Tirta Mayang Kota Jambi menyiapkan dan menyalurkan bantuan air bersih bagi pelanggan terdampak kekeringan selama musim kemarau 2026.

Daerah

Perumda Tirta Mayang Salurkan Bantuan Air Bersih

Kamis, 27 Agu 2026 - 21:04 WIB

Polisi menangkap terduga pelaku jaringan curanmor lintas daerah di Merangin. Enam lokasi dan tujuh sepeda motor masuk dalam pengembangan kasus.

Kriminal

Polisi Ungkap Jaringan Curanmor Lintas Daerah di Merangin

Kamis, 13 Agu 2026 - 13:56 WIB

Kabut asap karhutla mulai mengganggu kualitas udara Jambi. Pemprov Jambi mempertimbangkan masker dan meliburkan PAUD jika kondisi memburuk.

Daerah

Kabut Asap Karhutla Ganggu Kualitas Udara Jambi

Kamis, 13 Agu 2026 - 12:46 WIB

Kabupaten Kerinci meraih Terbaik II Program 3 Juta Rumah Regional Sumatera 2026 dan mendapat alokasi 250 unit bedah rumah.

Daerah

Kerinci Raih Juara Dua, Dapat 250 Bedah Rumah

Kamis, 13 Agu 2026 - 10:18 WIB

Sungai Penuh meraih Terbaik II akses layanan pendidikan Regional Sumatera 2026 dan mendapat insentif fiskal Rp1,5 miliar.

Daerah

Sungai Penuh Raih Terbaik II Akses Pendidikan Sumatera

Kamis, 13 Agu 2026 - 10:00 WIB