Adainfohitz.com, Jakarta – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap kasus dugaan keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemeriksaan tersebut menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada sejumlah sampel makanan.
Bakteri itu tidak hanya ditemukan pada buah semangka, tetapi juga pada beberapa jenis makanan lain yang disajikan dalam program MBG. Kementerian Kesehatan kemudian menyampaikan hasil pemeriksaan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat sistem keamanan pangan.
Kemenkes Temukan Bakteri E. coli
Budi menjelaskan tim Kementerian Kesehatan langsung turun ke lapangan setelah menerima laporan dugaan keracunan. Tim kemudian mengambil sampel makanan dan melakukan pemeriksaan laboratorium.
Hasil pemeriksaan menjadi dasar penyusunan rekomendasi perbaikan bagi Sistem Penyiapan dan Penyajian Gizi (SPPG).
“Ada beberapa makanan yang mengandung bakteri E. coli, bukan hanya semangka. Kami sudah memberi masukan kepada BGN terkait permasalahan di SPPG,” kata Budi saat konferensi pers di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Budi juga mengapresiasi langkah cepat Kepala BGN Sudaryono dalam menindaklanjuti setiap masukan. Menurutnya, BGN turut melibatkan para ahli untuk memperkuat sistem keamanan pangan di seluruh dapur MBG.
BGN Percepat Pemenuhan Standar Sanitasi
Budi mengatakan BGN terus mempercepat pemenuhan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) di seluruh dapur MBG. Langkah tersebut penting karena jumlah dapur penyedia makanan terus bertambah.
Sudaryono menetapkan batas waktu hingga 10 Agustus 2026 bagi seluruh dapur MBG yang belum memiliki SLHS. Setelah tenggat berakhir, BGN akan menutup permanen dapur yang tidak memenuhi persyaratan.
Menurut Sudaryono, SLHS menjadi syarat wajib bagi setiap dapur MBG. Karena itu, BGN tidak memberikan toleransi kepada dapur yang mengabaikan standar higiene dan sanitasi.
BGN Terapkan Zero Tolerance
BGN juga menghentikan sementara operasional setiap dapur yang diduga menjadi sumber keracunan. Dinas Kesehatan kemudian memeriksa sampel makanan di laboratorium dengan pengawasan Kementerian Kesehatan. Tim investigasi selanjutnya mencari penyebab kejadian secara menyeluruh.
Sudaryono menegaskan BGN menerapkan kebijakan zero tolerance terhadap setiap kasus keracunan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis.
Menurutnya, kebijakan tersebut bertujuan melindungi keselamatan, kesehatan, dan keamanan seluruh anak penerima manfaat.
Kasus di Jayapura dan Semarang
Kasus dugaan keracunan yang menjadi perhatian terjadi di Distrik Depapre, Jayapura, dan SMK Negeri 6 Semarang. Pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada sejumlah sampel makanan.
Temuan tersebut menjadi dasar bagi Kementerian Kesehatan dan Badan Gizi Nasional untuk memperkuat pengawasan keamanan pangan, meningkatkan standar sanitasi dapur, serta mencegah kejadian serupa pada pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.













Komentar