Adainfohitz.com, JAKARTA – Pengelola Paesarean Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, membantah anggapan yang menyebut kawasan tersebut sebagai tempat pesugihan. Mereka menegaskan Gunung Kawi merupakan destinasi wisata religi dan ziarah yang menyimpan nilai sejarah serta budaya.
Pernyataan itu muncul setelah berbagai unggahan di media sosial kembali mengaitkan Gunung Kawi dengan praktik pesugihan. Pengelola meminta masyarakat tidak mudah mempercayai berbagai narasi yang ramai di media sosial.
Gunung Kawi Menjadi Tujuan Ziarah
Melalui akun Instagram @gunungkawistory, pengelola menjelaskan bahwa ribuan orang rutin mengunjungi Gunung Kawi untuk berdoa, berziarah, dan mengucapkan rasa syukur.
“Ribuan orang datang dengan langkah yang tenang, membawa doa, harapan, dan rasa syukur. Bukan tempat yang ditakuti,” tulis pengelola dalam unggahan pada Jumat (3/7/2026).
Pengelola menjelaskan bahwa masyarakat sudah lama menjadikan Gunung Kawi sebagai tujuan ziarah, bahkan sebelum media sosial ramai dengan berbagai konten sensasional. Aktivitas ziarah itu juga menggerakkan perekonomian warga sekitar.
Pedagang bunga, pemilik warung, pengelola penginapan, dan sopir angkutan memperoleh penghasilan dari kunjungan para peziarah. Karena itu, pengelola mengajak masyarakat mengenal Gunung Kawi berdasarkan sejarah, budaya, dan kehidupan warga setempat.
Pengelola Jaga Sejarah dan Budaya
Pengelola menyebut Gunung Kawi tidak hanya menjadi lokasi ziarah, tetapi juga menjadi bagian penting dari warisan sejarah dan budaya. Warga setempat terus menjaga tradisi dan melestarikan nilai-nilai luhur dari generasi ke generasi.
“Di sinilah nilai-nilai luhur tetap terjaga, diwariskan, dan terus hidup dari generasi ke generasi. Bagi kami, Gunung Kawi bukanlah kisah yang dibuat-buat. Gunung Kawi adalah rumah,” tulis pengelola.
Pengelola juga mengajak masyarakat mempelajari sejarah Gunung Kawi secara langsung agar tidak mudah percaya pada informasi yang menyesatkan.
MUI Jawa Timur Ingatkan Masyarakat
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menegaskan bahwa Islam melarang setiap ritual yang mengandung unsur kemusyrikan. MUI juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengikuti praktik yang bertentangan dengan ajaran agama.
Selain itu, MUI mengimbau masyarakat menyaring setiap informasi sebelum mempercayainya. MUI juga meminta masyarakat memahami persoalan berdasarkan fakta yang memiliki dasar yang jelas.
Melalui penjelasan tersebut, pengelola berharap masyarakat melihat Gunung Kawi sebagai destinasi wisata religi, pusat ziarah, serta kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya, bukan sebagai tempat pesugihan.













Komentar